Perjalananku Ke Masjidil Aqso Palestina

Bismillah…
Saya posting ini untuk menjawab rasa penasaran beberapa teman yang ingin mengetahui tentang trip saya ke Palestina, Masjidil Aqso, dan tempat-tempat lain di sana. Di postingan kali ini, sengaja saya ingin bercerita sedikit tentang bagaimana saya menuju Masjidil Aqso dan Kota Jerusalem.

Dahulu, mendengar kata Jerusalem dan Betlehem, tidak pernah sedikitpun terlintas di benak saya bahwa kota-kota ini adalah tempat yang penting bagi umat Islam. Saya sering mendengar kalau umat Kristen banyak yang mengunjungi kota-kota ini sebagai bagian dari wisata rohani mereka. Belakangan, saya semakin sering mendengar tentang Aqso. Di mana itu? Saya tidak terlalu memperhatikan. Yang pasti, sebegitu terkesimanya saya saat melihat tayangan video seorang teman yang menggambarkan tentang liku-liku jalan berbatu menuju Aqso. Wah…rekaman itu sangat berbekas di benak saya.

Sejak itu, saya niatkan ingin berangkat ke Aqso. Saya tunggu dan tunggu, kapan ada teman yang posting tentang Aqso. Eh, tiba-tiba seorang teman FB mengabarkan bahwa dia baru pesan tiket dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Amman, Yordania lalu pulang dari Cairo, Mesir ke KL lagi. Langsung deh kepo dan ikutan pesan tiket juga untuk keberangkatan Februari 2018 pakai Saudia Airline. Udah, gitu aja. Selanjutnya saya belum tahu mau bagaimana. Pokoknya udah punya tiket, insya Allah niat menuju Aqso sudah mantap.

40 hari menjelang berangkat, akhirnya sudah fix ada sekitar 40 orang yg sudah membeli tiket dan kami secara kolektif dibantu oleh salah satu biro tour mengajukan visa Israel. Berbeda dengan pengajuan visa negara lain yang memerlukan paspor, pengajuan visa Israel ini hanya melalui email. Jadi buku paspor tetap kita pegang dan bisa kita pakai kemana-mana sebelumnya. Sekitar 3-5 hari sebelum berangkat, muncul pemberitahuan bahwa visa saya, suami, dan anak disetujui tapi ada 3 anggota rombongan yang visanya ditolak dan memutuskan batal berangkat.

Singkat cerita, tibalah saya di kota Amman, Yordania atau Jordan dan menginap selama 3 malam di sini sebelum memasuki wilayah Israel. Suka tidak suka, untuk menuju Palestina memang harus melalui imigrasi atau border Israel dulu sehingga kita membutuhkan visa dari mereka. Pagi jam 7, kami berangkat dari hotel di kota Amman menuju border imigrasi Israel yang terdekat, yaitu border Allenby. Sepanjang perjalanan di bis, tour guide dari Yordania beberapa kali memperingatkan kami agar tidak mengambil foto-foto saat sudah memasuki wilayah border, walaupun hanya memfoto jalanan atau sungai di sekitarnya dari dalam bis. Jangan sampai ada masalah yang membuat kami bisa ditolak masuk ke Israel, katanya. Ngomong-ngomong, supir dan guide di bis kami belum pernah ke Aqso lho… Buat mereka, menuju ke Aqso sangat sulit. Kalaupun bisa masuk wilayah Israel, ada kemungkinan mereka tidak dapat keluar lagi dan kembali ke negaranya. Di sini saya merasa beruntung sekali, walau jauh dan harus bersusah payah, ternyata saya pernah menyentuhkan dahi saya di lantai Masjid Al Aqsha.

Alhamdulillah kami semua lolos walau sempat deg-degan karena saya, suami, dan seorang teman kena random. Paspor sempat ditahan dan ditanya-tanya lebih lanjut sebelum akhirnya kami dinyatakan lolos dan boleh masuk ke wilayah Israel. Paspor kami tidak dicap dan memang saya juga akan menolak kalau dicap, tapi kami diberikan penggantinya berupa kartu yang diprint dan ada foto serta data kami.

Kota pertama yang kami singgahi adalah kota Jericho, kota tertua di dunia. Di kota ini hanya sebentar saja mampir ke toko souvenir yang menjual minyak zaitun dan lain-lain. Selanjutnya kami mengejar waktu ke Jerusalem agar bisa shalat Jumat di Masjidil Aqso. Jaraknya kalau tanpa antri di imigrasi dari kota Amman Yordania hanya 2 jam saja kira-kira. Kayak jarak dari Bandung-Jakarta tanpa macet ya?

Pertama melihat kota Jerusalem, saya terharu dan kagum. Pemandangan yang saya lihat dari jendela sungguh luar biasa. Seperti kota-kota di Eropa. Cantik sekali. Pas bis berhenti di dekat sebuah benteng, yang katanya kami sudah sampai, saya seperti diajak kembali ke masa lalu. Jaman kerajaan dalam negeri dongeng yang bentengnya seperti benteng Romawi. Keren amat, dalam hati saya. Lalu di mana masjidnya?

Kami pun menyusuri gang di dalam benteng. Ternyata, di dalam benteng itu terdapat sebuah kota yang dibangun dari batu. Rumahnya dari batu, jalannya dari batu. Inilah kota #BaitulMaqdis atau #JerusalemLama. Konon tidak sejengkal tanahpun di kota ini yang tidak dipakai beribadah oleh para Nabi. Di sana ada kios-kios kecil yang berjualan aneka kebutuhan, anak-anak yang bermain, orang dewasa yang berkegiatan, dan lain-lain. Kami dibantu oleh guide menyusuri jalan berbatu ini. Mungkin kami berjalan lebih dari 0,5 km. Jalanan di sini berundak-undak, ada tangga-tangga dan ada jalan yang tidak bertangga. Lebarnya paling 1-3 meter. Untuk yang memakai kursi roda memang agak kesulitan melewati jalan ini, walau ada juga yang bisa melewatinya. Menjelang shalat Jumat itu, suasana sangat ramai orang yang menuju mesjid.

Alhamdulillah, kami bisa shalat Jumat di sana. Yang unik, setelah shalat Jumat, Imam langsung menyambung kembali dengan shalat Ashar jama taqdim yang di-qashar. Jadi shalat 2 rakaat untuk Ashar setelah selesai shalat Jumat yang dilakukan oleh Imam Besar dan para jamaah. Imam utama memimpin shalat dari Mesjid Al Aqsha berkubah hitam (Kubah Qibli) bersama dengan jamaah pria di dalamnya. Jamaah wanita shalat di Mesjid Al Aqsha dengan Kubah Emas (Kubah Asshakrah). Di dalam kedua mesjid terbesar ini, jamaah sangat penuh dan sebagian besar shalat di pelataran batu serta halaman rumput yang penuh pohon zaitun. Tidak nampak Al Aqsha yang sepi pada saat shalat Jumat ini. Alhamdulillah. Beda dengan di waktu shalat lainnya. Mesjid ini sangat sepi.

Yang tidak ada di mesjid lainnya adalah tentara bersenjata lengkap dan besar-besar yang menjaga pintu masuk mesjid. Wih…sempet bikin kaget nih. Setiap pengunjung pun dicegat dengan pertanyaan.
โ€œAndonesi? (Indonesia)โ€, tanya tentara Israel.
โ€œYes!โ€, jawab saya dan langsung dipersilakan masuk. Suami saya dicegat beberapa kali saat memasuki wilayah gerbang masjid ini. Benar-benar ketat, seperti memasuki imigrasi yang isi tasnya pun harus diperlihatkan.

Silakan menyimak foto-foto dan video berikut ya… Semoga panggilan dari Al Aqsha sampai juga buat siapapun yang membaca kisah ini ya… ๐Ÿ˜Š

Author: Eka Adrian

"The world is a book, and those who do not travel read only a page." -Quote- Eka, Women, Traveler, Blogger, Entrepreuneur

22 thoughts on “Perjalananku Ke Masjidil Aqso Palestina”

    1. Iya Teh Tian, pengalaman baru untuk saya juga. Aksesnya memang tidak semudah kalau mesjid ini dikuasai oleh muslim. Kita berdoa sama-sama ya Teh…

    1. Iya, alhamdulillah saya beruntung bisa sempat ke sana. Tidak mudah untuk saudara-saudara muslim lainnya walau jaraknya lebih dekat.

  1. Selalu seneng melihat kisah perjalanan Teh Eka ma si Aa, apalagi ke negara yg Israel yang kedengerannya selalu penuh konflik. Sampe seketat itu ya teh.
    Semoga bisa mengikuti jejakmu, Teh!

  2. Masya Allah…menurut saya, perjalanan ke Jerusalem adalah perjalanan uji nyali karena konflik berat di sana. Selamat sudah mencapai Masjidil Aqsa,Teh. BTW, mau tanya, tentara Israel secara fisik sudah keliatan kejam ga? trus kenapa pak suami beberapa kali kena masalah di pintu pemeriksaan?

    1. Panjangnya perjalanan terasa berat, lalu pindah-pindah negara dan pemeriksaan yang lumayan menyita tenaga. Tapi alhamdulillah nyampe juga ya.

      Untuk turis, kami tidak diperbolehkan masuk ke wilayah-wilayah konflik. Jadi kekejaman tentara di sana tidak bisa dilihat oleh kami. Tentara yang kami temui biasa-biasa saja, hanya memang segala diperiksa, khususnya suami saya. Mungkin dari pakaian dan tampangnya tidak seperti umumnya muslim. Jalur masuk untuk non-muslim memang dibedakan oleh pasukan Israel di sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *