DODOL AJA PIKNIK, MASA KITA NGGAK?

Ruang Produksi Dodol Picnic Yang Bisa Kita Intip

Garut adalah nama sebuah kabupaten dan kota di provinsi Jawa Barat-Indonesia. Yang paling diingat orang sejak jaman dulu dari Garut adalah dodol dan domba. Antara dodol dan domba ngga ada hubungan sebab akibat sih kayaknya… Dodol bukan makanan domba dan domba bukan pula bahan baku dodol hehe…

Ada sebuah merk dodol yang paling legendaris di Garut, yaitu Dodol Picnic. Merk ini sering jadi meme yang menyebutkan, “Dodol aja Picnic, masa kamu enggak?”. Hihihi pernah tau kan guyonan itu?

Nah, kalau cerita di atas adalah guyonan, Gurita mau cerita yang seriusan. Kalau kebetulan lagi berkunjung ke Garut, kita bisa mampir ke Pabrik Dodol Picnic yang berlokasi di Jl. Pasundan Garut lho… Walau tidak bisa masuk ke dalam ruangan produksi, kita bisa mengintip kegiatan para pekerja di pabrik ini.

Plang Pabrik Dodol Picnic Garut di dekat gerbang masuk

Pembuatan dodol di pabrik ini sebagian sudah memakai mesin, jadi cairan bahan dodol tidak diaduk oleh tangan saja tapi juga ada mesin pengaduk besarnya. Kalau urusan pembungkusan dan pengepakan, masih mengandalkan keahlian tangan manusia untuk kemasan yang klasik. Untuk kemasan modern, pastinya sudah menggunakan bantuan mesin.

Ada hal yang unik saat para pekerja bekerja di pabrik ini. Mungkin untuk memberi semangat, ternyata saat jam kerja, di ruangan produksi dodol distel musik yang sangat keras. Ada lagu dangdut dan lagu lainnya. Wah, ide yang keren juga ya untuk menambah semangat karyawan.

Selain area produksi, di dalam kompleks pabrik ini juga terdapat sebuah toko yang merupakan gerai oleh-oleh dodol bermerk Picnic ini. Varian produk dodolnya juga beraneka ragam. Dari rasa klasik yang sudah sejak dulu ada, saat ini ada varian rasa buah-buahan, rasa kopi, susu, dan masih banyak lagi.

Untuk menambah wawasan, kalau berkunjung ke Garut, mampir aja ke pabrik ini. Lokasinya mudah dijangkau lho…

CARA MUDAH CARI TAKSI ARGO DI BANDARA DON MUEANG BANGKOK

Taksi dari Bandara Don Mueang bisa pesan di sini

Datang ke sebuah tempat yang baru selalu mendebarkan buat saya. Maklum…datengnya gak pake jasa biro perjalanan atau guide. Modal nekad dan sering dadakan hehehe…

Ini kedatangan pertama saya di Bangkok, 2 Juni 2016. Menggunakan pesawat Air Asia dari Bandara Soekarno-Hatta selama sekitar 3 jam terbang, saya dan suami tiba di Bangkok sekitar pukul 9 malam. Begitu dapat sinyal wifi, kami baru browsing bagaimana cari cara keluar bandara yang termudah dan termurah. Kesimpulan dari suami, kami pilih taksi aja.

Langsung deh kami datang ke gerai taksi yang paling mencolok begitu keluar dari imigrasi. Saat kami menyebut nama daerah Nana tempat kami menginap, dia menyebutkan angka 750 Bath. Euh…berapa itu ya? Wow lumayan juga setelah kami cek kursnya. Biasa lah, kalau baru dateng ke suatu tempat yang mata uangnya beda, otak harus rada lama berhitung dulu. Setelah itu, ada seseorang mendekati kami lagi dan menawarkan taksi dengan harga 600 Bath. Supir taksi gelap ini bolak-balik menawarkan walau kami tolak hingga turun jadi 400 Bath. Tetep aja kami tolak karena infonya untuk bayar taksi ke daerah yang kami maksud itu cukup 150-200 Bath.

Setelah terus aja berjalan dari imigrasi, turun tangga ke arah kiri sampai ujung, dapet deh gerai taksi resmi yang dikelola bandara. Dari jauh terlihat supir taksi berdiri seperti antri sementara mobil-mobilnya parkir dengan rapi di luar. Tanpa biaya apapun, kami hanya diberi secarik kertas dan langsung deh berjalan mengikuti supir taksinya. Ternyata bayarnya pun “by meter” kata petugas di bandara itu. Ooow…pake argo ya. Wah asik dong.

Taksi resmi pakai argometer di Bandara Bangkok Thailand

Pas udah jalan, supir taksi menawarkan pilihan lewat tol dengan menambah 50 Bath katanya. Oke deh, kami setuju (setelah komat-kamit ngitung tambahan sekitar 20-25 rb rupiah itu). Pas nyampe di daerah Nana, ternyata argonya hanya sekitar 180 Bath saja ditambah tol 50 Bath. Lumayan juga gak kebujuk sama taksi gelap tadi.

Tinggal saatnya berputar-putar di Bangkok nih. Kita sambung ceritanya ya…

BENDA KECIL BERMANFAAT SAAT BERTUALANG

Kanebo, pengganti handuk serba guna

Kalau saya pakai benda ini hehehe…

Kanebo? Iya kanebo kalau kata orang sih. Saya kurang paham namanya apa ya. Jadi sebut merk itu deh walau sering yang saya pakai adalah kanebo merk lainnya. Kayak rinso merk daia atau pompa sanyo merk mitsubishi kali ya wkwkwk…

Benda kecil ini praktis dibawa kemana-mana saat saya menginap di luar kota atau juga berenang. Ukurannya juga macem-macem lho… Saya dapet tips ini dari tante yang kebetulan seorang pengurus Pramuka dan sering kemping.

Lantas kenapa ngga pakai handuk aja? Yah kalau menginap di hotel yang berkelas sih pastinya ada handuk yang siap dipakai. Tapi kalau nginapnya di rumah penduduk setempat atau di jalan bagaimana? Harus siap dong dengan “handuk” yang walau basah tidak akan bau apek.

Selain pernah merasakan menginap di rumah penduduk, tempat menginap yang paling berkesan yang saya ingat adalah di kantor polisi hutan di Pulau Komodo dan di mobil di rest area 97 Tol Cipularang yang adem hehe… Kalau bertualang di Kepulauan Seribu Jakarta juga penginapannya ya kebanyakan rumah penduduk.

Nah, kembali ke soal kanebo ini, selain tidak bau apek walau lembap, bentuknya juga sangat ringkas dan maksimal untuk menyerap air sisa mandi di tubuh kita, termasuk saat kita habis keramas. Berkali-kali diperas juga bisa. Ssst…kalau ngajak anak-anak berenang juga saya sering bawa kanebo ini lho…

Nah, begitulah sepenggal kisah tentang manfaat lain dari kanebo ini. Mau mencoba?

Jangan Lewatkan Praha

“Kalian kalau ke Eropa daratan harus mampir ke Praha ya!”

“Emangnya ada apa di Praha? Bagus gitu?’

“Saya belum pernah ke Praha jadi gak tau bagusnya seperti apa. Kata orang bagus banget! Makanya nyesel…”

Oh jadi temen saya wanti-wanti supaya saya berkunjung ke Praha karena dia menyesal tidak mempir ke sana saat ngetrip ke Eropa. Kenapa sih dia nyesel? Ya udah deh, daripada nyesel juga saya coba nekad mengunjungi Praha tanpa rencana yang ribet. Tujuan ke Praha cuma sekedar membuktikan kata-kata seorang teman yang menyesal belum pernah mampir.

Sebelum menjelajahi kota yang bernama Praha, saya habis menengok sebuah kota cantik juga yang bernama Wina atau Vienna di Negara Austria. Dari Vienna, saya dan suami mengendarai bus antar negara yang menuju Republik Ceko untuk tujuan kota Praha. Sepanjang perjalanan menuju Praha, pemandangan indah yang terbentang bagaikan di negeri dongeng. Bangunan kuno, rumput, dan langit yang cerah.

Tiba di kota Praha, bis masuk ke sebuah terminal. Begitu sampai, kami sadar bahwa ternyata mata uang Euro sudah tidak berlaku lagi. Pas haus mau beli minum di terminal bis pun uangnya harus ditukar dulu menjadi Chezch Crown (CZK). Nilai tukar ke rupiah kira-kira Rp.10.000 itu hampir setara dengan 18 CZK.

inilah mata uang Republik Czech alias Ceko yaitu Crown

Yang unik lagi kami menemukan seakan keluar dari sebuah mesin waktu ke beberapa puluh atau ratus tahun lalu saat melihat situasi di seputar kota tua Praha. Mulai dari kendaraan hingga hotelnya masih mempertahankan ciri jaman dahulu kala.

Pemandangan ke luar dari hotel tempat kami menginap di pusat kota Prague alias Praha

 

Delapanpuluh Enam Hari Di Benua Baru

“Kalian kalau ke Eropa daratan harus mampir ke Praha ya!”

“Emangnya ada apa di Praha? Bagus gitu?’

“Saya belum pernah ke Praha jadi gak tau bagusnya seperti apa. Kata orang bagus banget! Makanya nyesel…”

Oh jadi temen saya wanti-wanti supaya saya berkunjung ke Praha karena dia menyesal tidak mempir ke sana saat ngetrip ke Eropa. Kenapa sih dia nyesel? Ya udah deh, daripada nyesel juga saya coba nekad mengunjungi Praha tanpa rencana yang ribet.

Saat itu di bulan April 2015, saya berkesempatan selama 3 bulan berada di sekitar Eropa. Dua bulan buat sekolah dan trip di London dan seputar UK, sebulan lagi buat menjelajah keliling Eropa daratan mumpung sudah dekat. Suatu kali kami bertemu dengan sepasang suami istri untuk berbagi taksi saat baru tiba dari Bandara Roma menuju hotel di tengah kota. Mendengar cerita kami yang berkeliling hampir selama hampir 3 bulan ini membuat pasangan suami istri setengah baya tersebut tertawa. Kata mereka, kesempatan seperti ini harus dinikmati karena belum tentu akan terjadi 2 kali dalam hidup kita. Hmmm bener juga ya. Kalau dipikir secara waras, gila juga ya kami nekad menghabiskan waktu nitip anak ke orang tua untuk pindah dari 1 tempat ke tempat lain di benua yang asing. Wah, pikiran yang mengabaikan kewarasan seperti itu kayaknya susah diulang lagi wkwkwk…

Bertualang berdua selama hampir 100 hari terasa sangat singkat buat saya. Kalau lagi mikirin berpisah sama anak sih kerasa lama banget. Sebagai emak, saya akan lebih tenang kalau berada dekat anak. Tapi untuk petualangan seperti ini, untungnya anak tidak dibawa. Mereka bisa sakit kelelahan kali ya.

Selain menjelajahi London dan kota-kota di Inggris di sela-sela waktu kuliah dan mengerjakan tugas-tugas, kami menjelajahi juga beberapa negara Eropa lainnya setelah masa kuliah usai. Negara yang sempat kami singgahi antara lain Belgia atau Belgium, Belanda atau Netherland, Jerman atau Germany, Austria, Cekoslovakia, dan Italy. Saat terbang dari Indonesia, saya dan suami transit di Kuala Lumpur Malaysia dan Kuwait beberapa jam karena menggunakan Kuwait Air. Saat pulang kembali ke Indonesia, saya transit di Abu Dhabi karena menggunakan maskapai Etihad.

 

 

York, Kota Tua Di Inggris Bagai Negeri Dongeng

York! Dari namanya dulu gak kepikiran ingin berkunjung ke sana. Kalau New York lebih bikin penasaran, pasti keren kebayangnya. York di United Kingdom dan New York di United States of America. Apasih yang mau dicari di York? Itu sekelebat pertanyaan yang ada di pikiran. Tapi berhubung sedang menuntut ilmu di London, ya udah deh sekalian berkunjung. Cuma sekitar 5-6 jam perjalanan juga kok dari London kalau pakai bis.

Nah kebetulan dari London itu saya dan pak suami tidak langsung ke York, tapi singgah dan menginap di Leeds. Leeds adalah kota kecil yang berjarak sekitar 4 jam dari London. Dari Leeds, kami cukup melanjutkan rute menggunakan bis juga sekitar 1-1,5 jam saja menuju York. Lalu kenapa tidak langsung ke York? Yah pertimbangan masih buta rute dan konon biaya menginap di York lumayan tinggi. Mungkin teman-teman bisa mengecek sendiri di http://booking.com dan web sejenis lainnya. Kalau di Leeds, kami bisa nebeng nginep di teman baik kami (ngirit hehehe…)

Perjalanan ke York kami lakukan tanggal 19 Maret 2015. Berangkat naik bus dari stasiun bus Leeds, setiba di kota York, kami turun di dekat stasiun kereta api. Suasana stasiunnya asik banget, kuno, besar, dan terpelihara. Jadi inget film kartun Thomas. Banyak sudut menarik di stasiun ini yang asik buat difoto. Jenis kereta yang berjejer di sini pun sangat beraneka ragam. Ada model terbaru hingga model yang cukup antik.

Dekat stasiun kereta api ini ada sebuah benteng besar sekali. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan dengan menembus benteng tersebut melalui jalan di dinding benteng yang terbuka. Cuaca cukup dingin tapi hangat di sekitar bulan Maret 2015 itu. Mungkin sekitar 10 derajat Celcius. Kami memutuskan jalan kaki walau tidak tau sebesar apa kota yang akan dijelajahi kali ini. Eh, ternyata kotanya mungil.

Kota York terbagi 2, ada yang di luar benteng dan ada yang di dalam benteng. Kota yang di luar benteng agak mirip seperti kota-kota lain di Inggris. Kalau yang di dalam benteng seperti negeri dongeng. Bangunannya, terutama toko-toko kecil dan berpintu rendah terlihat lucu sekali. Kayak lagi berada di jaman beratus-ratus tahun yang lalu. Kondisi tokonya masih dipertahankan sampai kini.

Begitu sudah beberapa ratus meter menjelajahi, barulah terasa magnet kota ini yang memiliki warisan historis yang sangat kental. Andai semua orang berubah memakai kostum jaman dulu dan yang hilir mudik bukan mobil tapi kereta kuda, kita serasa melewati mesin waktu dan berada di jaman ratusan tahun lalu. Mengagumkan! Banyak yang masih dijaga keaslian bangunannya di sini. Entah dulunya bangunan itu berupa rumah tinggal atau toko, tapi memasuki wilayah York ini memang memberi nuansa Eropa di masa lalu. Cantik sekali. Jalan-jalan berbatu, bangunan pendek, dan lain sebagainya. Sangat tidak menyesal saya pernah singgah di sini.

Kalau ada yang ingin tahu tentang York, ini dia cerita singkatnya (disalin dari wikipedia) :

York ialah sebuah kota di North Yorkshire, Inggris, dekat Sungai Ouse dan Foss. York didirikan pada tahun 71 oleh bangsa Romawi sebagai Eboracum. Setelah bangsa Anglia pindah ke tempat ini, kota ini bernama Eoferwic, dan menjadi pusat Kerajaan Northumbria. Kota ini merupakan ibukota historis Yorkshire. Jumlah penduduk kota ini 137.505.

Tempat menarik di York antara lain Katedral York, dinding kota York dan Clifford’s Tower. Universitas York yang ada di kota ini didirikan pada tahun 1963.

Selanjutnya ayo jalan-jalan melihat Kota York ini lewat foto saya. Siapa tau nanti kamu berkesempatan ke sana ya… aamiin…

Toko Yang Sangat Unik Di Kawasan Kota York Dengan Pintu Yang Hanya Setinggi Badan Saya
Sebuah Gang Yang Cantik Di Kota York
Sebuah Toko Barang-Barang Untuk Yayasan Amal
Jalan Cantik Berbatu Di Kota York
Peta York Sangat Unik Seperti Gambaran Tangan Yang Membantu Kita Menjelajahi Pelosok Kota Tua
Ghost Tour Menggunakan Bus Kuno Bercat Hitam Di Kota York
Sungai Besar Dan Bersih Yang Melalui Kota York