SERBA – SERBI MEMBAWA ANAK UMROH

 

Membawa anak umroh, ujian kesabaran bagi orangtua

Kenapa masih kecil harus diajak?

Apa tidak repot ngajak anak-anak?

Wah, orangtua harus siap diuji kesabarannya…

Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang sempat terlontar saat saya selalu terusik pikiran untuk mengajak anak-anak umroh. Anak-anak kami usianya 12, 8, dan 6 tahun, masih SMP dan SD. Kenapa pikiran selalu terusik ya? Mungkin hanya Allah yang tahu karena secara duniawi lebih seru ngajak anak ke Disney Land daripada berpayah-payah ke Tanah Suci. Tapi mungkin ini bukan hasil logika biasa, itung-itungan materi jadi nomor dua. Rencana ingin ganti mobil biarlah ditunda, rasanya ada yang lebih urgent dari itu. Mungkin ini jalan dari Allah. Kalau soal materi, saya percaya rejeki akan langsung dikirim dari Allah asalkan untuk ke Tanah Suci. Jadi seperti kita tidak mengeluarkan biaya apa-apa (pikiran positif saya selalu). ?

Pemikiran lainnya, tidak ada yang tau umur orang. Kalau saya menunda mengajak anak ke Mekkah, apakah di masa yang akan datang saya masih diberi umur, suami masih diberi umur, atau si anak sendiri masih diberi umur? Nah, kayaknya lebih cepat lebih baik, pikir saya waktu itu. Lagipula dengan keedanan jaman sekarang, saya lebih percaya menitipkan pada Allah saja supaya menjaga ahklak agar selalu soleh dan solehah.

Mendaftar untuk umroh sejak beberapa bulan lalu untuk memastikan seat pesawat di jadwal keberangkatan yang tidak mengganggu jadwal kerja, kuliah saya dan suami, serta jadwal sekolah anak-anak. Alhamdulillah kami berangkat berlima, orang tua dengan 3 anak kecil. Eh, ditambah staf saya di kantor 1 orang jadi berenam. Alhamdulillah… Cerita tentang staf saya bernama Dewi yang ikut umroh juga punya cerita unik sendiri (kapan-kapan diceritain kalau sempat).

Menjelang keberangkatan, ada hal yang tidak terduga, si bungsu panas tinggi berhari-hari. Dengan obat dokter dan obat tradisional panasnya tetap tidak turun. Di situlah ujian kesabaran dimulai. Saya pasrah dan larut dalam doa-doa di shalat istikharah pada malam menjelang keberangkatan. Jawaban hati atas shalat itu, saya harus yakin dan mantap membawa anak saya memenuhi panggilan-Nya ke Tanah Suci. Biarlah Allah yang Maha Pengatur yang menyelesaikan keraguan hati.

Saat perjalanan di pesawat pun badan anak saya masih panas tinggi dan sangat rewel. Perjalanan panjang 9-10 jam di pesawat yang seharusnya untuk istirahat, saya baktikan untuk menenangkan anak dan mengatasi demamnya. Ujian kesabaran yang masih harus dilalui, pikir saya sambil memikirkan Allah pasti akan menolong.

Akhirnya sampailah kami di Jeddah Arab Saudi, bandara utama tempat mendaratnya pesawat haji dan umroh. Sehabis dari Jeddah, kami tidak langsung melaksanakan umroh ke Mekkah, tapi menggunakan bus menuju kota Madinah yang berjarak 6-7 jam dari Jeddah. Mekkah sendiri mungkin hanya sekitar 1 jam dari Jeddah, tapi jemaah Indonesia yang melakukan umroh langsung setelah mendarat biasanya melakukan niat dan miqot saat di pesawat udara saat terbang di atas kota Yalamlam. Rombongan kami rencananya melakukan miqot dan niat dari Bir Ali yang berada di sekitar Madinah.

Bus Arab dengan lantai khusus penumpang di bagian atas

Tiba di Madinah sekitar pukul 2 dini hari waktu setempat. Kami istirahat di kamar hotel sebentar setelah perjalanan yang begitu panjang. Saya pegang tubuh anak saya tidak demam sama sekali. Dia pun bisa tidur nyenyak. Pukul 4.30 dini hari, sebelum azan subuh, saya dan suami bersiap ke mesjid Nabawi untuk menunggu waktu azan subuh. Anak-anak yang sangat nyenyak tadinya ingin kami biarkan tidur dahulu. Tiba-tiba mereka terbangun karena merasakan persiapan orang tuanya dan ingin ikut ke mesjid. Masya Allah, alhamdulillah… Si bungsu yang beberapa jam sebelumnya masih rewel dan panas paling terlihat semangat dan kelihatan sangat segar.

Alhamdulillah, selama di Madinah yang cuacanya agak dingin, anak-anak tetap sehat. Cuma namanya anak-anak, badan mereka memang belum sekuat orang dewasa. Beberapa kali mereka kami tinggalkan di kamar hotel saat orang tuanya shalat ke mesjid. Yang pasti, walau di hotel mereka harus tetap shalat.

Ujian kesabaran juga harus kami lalui saat menuju ibadah umrah yang sebenarnya. Tanggal 3 Maret 2016 sekitar pukul 15.00, kami melakukan niat umroh di miqot Bir Ali di kota Madinah. Setelah miqot, kami menaiki bus menuju Kota Haram Mekkah Al Mukarromah dalam keadaan ihram selama sekitar 6-7 jam perjalanan. Di perjalanan sebagian orang melantunkan talbiyah dan sebagian lagi tidur. Anak-anak pun tidur nyenyak sepanjang perjalanan. Saya tidak mau mengusik mereka karena setelah perjalanan ini kami akan melakukan rangkaian ibadah umrah pada malam hingga dini hari yang pasti akan menguras tenaga.

Sesampainya di Mekkah, kami makan sejenak di hotel dan keluarga kecil saya memisahkan diri dari rombongan untuk memulai ibadah umrah lebih awal. Pertimbangannya, supaya anak-anak tidak terlalu lelah begadang dan lebih cepat selesai lebih baik. Lagipula dengan membawa anak tampaknya kami akan berjalan lebih lambat dibanding orang lain.

Di sinilah ujian kesabaran yang berikutnya. Karena membawa anak, supaya mereka tidak terlalu lelah, kami sengaja membawa kursi dorong. Untuk yang menggunakan kursi dorong, jalurnya terpisah saat thawaf dan sa’i. Saat tanpa membawa anak, kami umroh dan sa’i di jalur manusia yang berjalan kaki. Kalau anaknya masih balita dan cuma 1 anak sih mending digendong aja kayaknya.

Resiko berada di jalur kursi roda berbeda karena di jalur manusia biasa hanya akan berdempetan atau bertubrukan dengan badan manusia. Di jalur kursi roda, kami baru merasakan yang namanya tertubruk kursi roda berkali-kali dari belakang oleh kursi roda orang lain hingga kaki luka atau berdarah.

Hiks…ujian kesabaran yang sangat sakit tapi semoga menjadi penggugur dosa. Benar-benar pengalaman batin yang baru. Suamiku sampai terpincang-pincang mendorong kursi roda anak kami setelah ditabrak hingga jatuh dan berdarah di kakinya. Saya yang disampingnya hanya bisa menguatkan sambil menangis dan ikut mendoakan kebaikan dan ampunan dosa bagi suami dalam rasa sakitnya.

Sebenarnya di sekitar sana banyak petugas tim pendorong kursi roda yang bisa dimintakan jasanya. Mereka biasanya bergerombol misalnya di sekitar jalur sa’i. Tarifnya adalah 100 riyal untuk mendorong di tempat thawaf dan 100 riyal juga di tempat sa’i.

Saat thawaf, anak-anak masih kelihatan semangat dan kuat walau kami berkeliling 7 kali putaran menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam. Karena kami hanya membawa 1 kursi roda, anak-anak duduk bergiliran. Jadi semua kebagian jatah jalan dan jatah duduk didorong. Alhamdulillah semua gembira.

Pada saat sa’i, kelihatannya si bungsu mulai kelelahan dan ngantuk sehingga agak rewel. Putaran ke 4 sa’i antara bukit Marwah ke Safa, kami akhirnya memutuskan menyewa kursi roda karena anak-anak mulai kelihatan lelah dan ingin cepat beres. Biayanya nego dan akhirnya disepakati 75 riyal. Yang penting anak-anak bisa menuntaskan umrohnya dan mereka bisa menyerap banyak pelajaran berharga dari ibadah ini.

Kebetulan kami umroh di malam Jumat. Masjidil Haram pada malam Jumat ramainya benar-benar seperti mall yang lagi menyelenggarakan obral besar-besaran. Penuh banget! Dan hari Jumat memang hari liburnya kantor di Arab. Jadilah warga sini memanfaatkan malam liburnya dengan umroh sekeluarga. Bukan pemandangan aneh anak-anak banyak dibawa pada malam itu dan jalur thawaf serta sa’i sangat penuh oleh keluarga muda Arab. Alhamdulillah…kami tidak sendirian ?

Hingga waktunya selesai sa’i antara bukit Safa dan Marwah, kami pun melakukan tahallul sebagai tuntasnya ibadah umrah yang kami jalan hari itu. Total sekitar 3 jam kami melakukan rangkaian umrah di Masjidil Haram, jadi jam 3 dini hari kami sudah keluar dari Masjid. Setelah itu, sambil pulang ke hotel kami sempatkan mampir ke tempat cukur dan digundullah dua cowok kesayangan saya (suami dan si bungsu). Tukang cukur, toko makanan, toko souvenir, dan toko-toko lain di kota Mekkah memang ngga ada matinya. Buka selama 24 jam non-stop!

Alhamdulillah, semoga ibadah umrah kami bersama anak-anak diterima Allah dan semoga tulisan ini membawa manfaat bagi yang punya niat untuk umroh atau haji.

INDOGEST 2015 DI LONDON KARYA ANAK MUDA INDONESIA ( PPI LONDON )

Baru sebulan di London tiba-tiba ada info dari temen-temen kalo PPI London bakal ngadain INDOGEST dan butuh volunteer. Eh, acara apaan tuh? Kayaknya seru juga jadi bagian dari panitia acara di negeri antah berantah ini. Karena tertarik, jadilah kami berdelapan, mahasiswa MBA-CCE ITB, bergabung bantuin panitia. Ada yang di bagian medik, ada yang dokumentasi, dan ada yang di bagian bazaar.

Sebelum hari H, 2 hari sebelumnya kami mengadakan pertemuan untuk membahas persiapan akhir. Kalo panitia intinya sih sudah bekerja mulai dari beberapa bulan sebelumnya. Kerja panitia untuk menyiapkan acara ini pastinya lumayan berat karena waktu yang singkat dan kesibukan kuliah, tapi akhirnya terbayar dengan suksesnya acara ini berjalan.

Indogest 2015 adalah acara kompetisi olahraga fisik dan permainan unik, ditambah tampilan seni dan bazaar makanan khas Indonesia. Kompetisi olahraga meliputi pertandingan bulu tangkis, tenis meja, bola basket, dan sepak bola. Kompetisi permainan yang diadakan seperti catur, congklak, dan kartu. Sangat unik ya, bahkan di Indonesia kami sebagai mahasiswa hampir melupakan permainan tradisional yang seru ini.

Di bagian bazaar makanan, hal yang seru adalah bisa menemukan dan membeli pecel, mie bakso, rujak cingur, sate ayam, siomay, dan sebagainya yang tidak bisa ditemukan setiap saat. Betul-betul saat yang langka untuk memanjakan lidah. Untuk menyiapkan stand makanan hingga siap berjualan adalah tanggung jawab panitia dan volunteer di bagian ini. Kami bahu-membahu menolong para peserta bazaar untuk bisa merapikan lapak secepatnya. Salut pada teman-teman yang sangat ringan tangan membantu, terutama membereskan 1 stand yang barangnya banyak banget, sebanyak barang untuk pindahan toko hehe…

Namun di bagian bazaar makanan ini membawa cerita yang unik karena beberapa orang yang belanja makanan jadi terserang mules dan BAB beberapa kali. Semua yang mengalami ini merujuk ke sebuah jenis makanan yang sama-sama kami beli. Hal ini kami ungkapkan dalam tulisan ini agar selanjutnya pihak penjual makanan lebih menjaga kebersihan makanannya karena ini menyangkut nama baik PPI London dan acara INDOGEST.

Sudahlah, kejadian di atas adalah “kenangan” yang akan kami ingat tapi tidak merusak kenangan indah tentang keseluruhan acara yang berjalan sukses. Kerja keras panitia patut diacungi jempol dan terima kasih kepada sponsor yang membantu kelangsungan acara ini, yaitu Garuda Indonesia dan Indofood.

Pada saat bubar seusai acara, kami bisa tersenyum bahagia karena sudah menjadi bagian dari kumpulan mahasiswa Indonesia yang kreatif dan kompak saling membantu. Semoga INDOGEST 2016 mendatang bisa berjalan juga dan PPI London tetap kompak.

BERBUKA ALA PANTI ASUHAN

#BerbukaAlaPantiAsuhan

Saat Ramadhan, sudah hal yang lumrah banyak pihak mengundang anak-anak panti asuhan berbuka di rumahnya, di restoran, dan bahkan di hotel. Tapi ada rasa penasaran di hati saya, ingin sekali mengajak anak-anak saya bergabung dengan anak-anak panti dan berkegiatan bersama seperti keseharian mereka.

Seperti apa rasanya ya?

Alhamdulillah niat itu kesampaian hari ini. Malah sebenernya, saya ingin mengajak anak-anak saya menginap di sana. Sayangnya si bungsu belum bersedia. Katanya takut mimpi buruk atau sedih membayangkan anak yang tidak punya orang tua. Alasan yang lucu dan polos tapi saya gak mau memaksa ?

Menu buka puasa kali ini sayur kacang merah, ikan asin, dan tumis cabe tahu ditambah gorengan. Alhamdulillah…nikmat banget. Yang masak ibu pengurus dibantu anak-anak panti.

Panti ini menampung puluhan anak. Ada yang sudah SMA, SMP, SD, dan bahkan yang terkecil masih balita. Faiz, anak terkecil berumur 4 tahun ini punya kisah memilukan tentang almarhumah ibunya dan perlakuan bapaknya yang mengurung dia saat bekerja yang kadang tidak memberi makan seharian. Alhamdulillah akhirnya sudah setahun ini tinggal di panti yang bisa merawatnya ini.

Banyak kisah dan hikmah untuk saya dan anak-anak hari ini. Semoga kita semua selalu mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Aamiin…

Penghuni yang masih kecil mengisi waktu puasa dengan tidur siang
Siang yang lengang di dalam panti
Antri mengambil air minum saat buka puasa tiba
Antri mengambil makan setelah shalat magrib berjamaah
Dua anak laki-laki, kakak beradik sebagai penghuni panti termu

BENDA KECIL BERMANFAAT SAAT BERTUALANG

Kanebo, pengganti handuk serba guna

Kalau saya pakai benda ini hehehe…

Kanebo? Iya kanebo kalau kata orang sih. Saya kurang paham namanya apa ya. Jadi sebut merk itu deh walau sering yang saya pakai adalah kanebo merk lainnya. Kayak rinso merk daia atau pompa sanyo merk mitsubishi kali ya wkwkwk…

Benda kecil ini praktis dibawa kemana-mana saat saya menginap di luar kota atau juga berenang. Ukurannya juga macem-macem lho… Saya dapet tips ini dari tante yang kebetulan seorang pengurus Pramuka dan sering kemping.

Lantas kenapa ngga pakai handuk aja? Yah kalau menginap di hotel yang berkelas sih pastinya ada handuk yang siap dipakai. Tapi kalau nginapnya di rumah penduduk setempat atau di jalan bagaimana? Harus siap dong dengan “handuk” yang walau basah tidak akan bau apek.

Selain pernah merasakan menginap di rumah penduduk, tempat menginap yang paling berkesan yang saya ingat adalah di kantor polisi hutan di Pulau Komodo dan di mobil di rest area 97 Tol Cipularang yang adem hehe… Kalau bertualang di Kepulauan Seribu Jakarta juga penginapannya ya kebanyakan rumah penduduk.

Nah, kembali ke soal kanebo ini, selain tidak bau apek walau lembap, bentuknya juga sangat ringkas dan maksimal untuk menyerap air sisa mandi di tubuh kita, termasuk saat kita habis keramas. Berkali-kali diperas juga bisa. Ssst…kalau ngajak anak-anak berenang juga saya sering bawa kanebo ini lho…

Nah, begitulah sepenggal kisah tentang manfaat lain dari kanebo ini. Mau mencoba?

Jangan Lewatkan Praha

“Kalian kalau ke Eropa daratan harus mampir ke Praha ya!”

“Emangnya ada apa di Praha? Bagus gitu?’

“Saya belum pernah ke Praha jadi gak tau bagusnya seperti apa. Kata orang bagus banget! Makanya nyesel…”

Oh jadi temen saya wanti-wanti supaya saya berkunjung ke Praha karena dia menyesal tidak mempir ke sana saat ngetrip ke Eropa. Kenapa sih dia nyesel? Ya udah deh, daripada nyesel juga saya coba nekad mengunjungi Praha tanpa rencana yang ribet. Tujuan ke Praha cuma sekedar membuktikan kata-kata seorang teman yang menyesal belum pernah mampir.

Sebelum menjelajahi kota yang bernama Praha, saya habis menengok sebuah kota cantik juga yang bernama Wina atau Vienna di Negara Austria. Dari Vienna, saya dan suami mengendarai bus antar negara yang menuju Republik Ceko untuk tujuan kota Praha. Sepanjang perjalanan menuju Praha, pemandangan indah yang terbentang bagaikan di negeri dongeng. Bangunan kuno, rumput, dan langit yang cerah.

Tiba di kota Praha, bis masuk ke sebuah terminal. Begitu sampai, kami sadar bahwa ternyata mata uang Euro sudah tidak berlaku lagi. Pas haus mau beli minum di terminal bis pun uangnya harus ditukar dulu menjadi Chezch Crown (CZK). Nilai tukar ke rupiah kira-kira Rp.10.000 itu hampir setara dengan 18 CZK.

inilah mata uang Republik Czech alias Ceko yaitu Crown

Yang unik lagi kami menemukan seakan keluar dari sebuah mesin waktu ke beberapa puluh atau ratus tahun lalu saat melihat situasi di seputar kota tua Praha. Mulai dari kendaraan hingga hotelnya masih mempertahankan ciri jaman dahulu kala.

Pemandangan ke luar dari hotel tempat kami menginap di pusat kota Prague alias Praha

 

York, Kota Tua Di Inggris Bagai Negeri Dongeng

York! Dari namanya dulu gak kepikiran ingin berkunjung ke sana. Kalau New York lebih bikin penasaran, pasti keren kebayangnya. York di United Kingdom dan New York di United States of America. Apasih yang mau dicari di York? Itu sekelebat pertanyaan yang ada di pikiran. Tapi berhubung sedang menuntut ilmu di London, ya udah deh sekalian berkunjung. Cuma sekitar 5-6 jam perjalanan juga kok dari London kalau pakai bis.

Nah kebetulan dari London itu saya dan pak suami tidak langsung ke York, tapi singgah dan menginap di Leeds. Leeds adalah kota kecil yang berjarak sekitar 4 jam dari London. Dari Leeds, kami cukup melanjutkan rute menggunakan bis juga sekitar 1-1,5 jam saja menuju York. Lalu kenapa tidak langsung ke York? Yah pertimbangan masih buta rute dan konon biaya menginap di York lumayan tinggi. Mungkin teman-teman bisa mengecek sendiri di http://booking.com dan web sejenis lainnya. Kalau di Leeds, kami bisa nebeng nginep di teman baik kami (ngirit hehehe…)

Perjalanan ke York kami lakukan tanggal 19 Maret 2015. Berangkat naik bus dari stasiun bus Leeds, setiba di kota York, kami turun di dekat stasiun kereta api. Suasana stasiunnya asik banget, kuno, besar, dan terpelihara. Jadi inget film kartun Thomas. Banyak sudut menarik di stasiun ini yang asik buat difoto. Jenis kereta yang berjejer di sini pun sangat beraneka ragam. Ada model terbaru hingga model yang cukup antik.

Dekat stasiun kereta api ini ada sebuah benteng besar sekali. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan dengan menembus benteng tersebut melalui jalan di dinding benteng yang terbuka. Cuaca cukup dingin tapi hangat di sekitar bulan Maret 2015 itu. Mungkin sekitar 10 derajat Celcius. Kami memutuskan jalan kaki walau tidak tau sebesar apa kota yang akan dijelajahi kali ini. Eh, ternyata kotanya mungil.

Kota York terbagi 2, ada yang di luar benteng dan ada yang di dalam benteng. Kota yang di luar benteng agak mirip seperti kota-kota lain di Inggris. Kalau yang di dalam benteng seperti negeri dongeng. Bangunannya, terutama toko-toko kecil dan berpintu rendah terlihat lucu sekali. Kayak lagi berada di jaman beratus-ratus tahun yang lalu. Kondisi tokonya masih dipertahankan sampai kini.

Begitu sudah beberapa ratus meter menjelajahi, barulah terasa magnet kota ini yang memiliki warisan historis yang sangat kental. Andai semua orang berubah memakai kostum jaman dulu dan yang hilir mudik bukan mobil tapi kereta kuda, kita serasa melewati mesin waktu dan berada di jaman ratusan tahun lalu. Mengagumkan! Banyak yang masih dijaga keaslian bangunannya di sini. Entah dulunya bangunan itu berupa rumah tinggal atau toko, tapi memasuki wilayah York ini memang memberi nuansa Eropa di masa lalu. Cantik sekali. Jalan-jalan berbatu, bangunan pendek, dan lain sebagainya. Sangat tidak menyesal saya pernah singgah di sini.

Kalau ada yang ingin tahu tentang York, ini dia cerita singkatnya (disalin dari wikipedia) :

York ialah sebuah kota di North Yorkshire, Inggris, dekat Sungai Ouse dan Foss. York didirikan pada tahun 71 oleh bangsa Romawi sebagai Eboracum. Setelah bangsa Anglia pindah ke tempat ini, kota ini bernama Eoferwic, dan menjadi pusat Kerajaan Northumbria. Kota ini merupakan ibukota historis Yorkshire. Jumlah penduduk kota ini 137.505.

Tempat menarik di York antara lain Katedral York, dinding kota York dan Clifford’s Tower. Universitas York yang ada di kota ini didirikan pada tahun 1963.

Selanjutnya ayo jalan-jalan melihat Kota York ini lewat foto saya. Siapa tau nanti kamu berkesempatan ke sana ya… aamiin…

Toko Yang Sangat Unik Di Kawasan Kota York Dengan Pintu Yang Hanya Setinggi Badan Saya
Sebuah Gang Yang Cantik Di Kota York
Sebuah Toko Barang-Barang Untuk Yayasan Amal
Jalan Cantik Berbatu Di Kota York
Peta York Sangat Unik Seperti Gambaran Tangan Yang Membantu Kita Menjelajahi Pelosok Kota Tua
Ghost Tour Menggunakan Bus Kuno Bercat Hitam Di Kota York
Sungai Besar Dan Bersih Yang Melalui Kota York

Dadah Gaptek…

Jaman udah semakin bergeser ke arah serba teknologi. Buat emak-emak seperti saya, waduh susah amat mengikutinya. Saya selalu merasa gaptek (gagap teknologi), kudet (kurang apdet), dan sebagainya. Tantangan terberat saya soal teknologi kekinian adalah pada saat memutuskan ingin mencoba membuka toko online dan juga mengambil kuliah S2. Rasanya pengen pura-pura pingsan aja biar ditolongin orang deh daripada musti belajar dan mengerti masalah perteknologian, khususnya teknologi online.

Untuk urusan bikin toko online dan trik-trik per-online-an, untungnya saya menemukan banyak pihak yang membantu, baik berbayar maupun gratisan. Nah yang repot adalah sewaktu melanjutkan kuliah S2 ini. Berkali-kali saya musti tergagap-gagap dalam mengikuti prosedur kekiniannya. Untungnya saya kuliah bareng pak suami, jadi kalau saya masih terbengong-bengong, beliau yang akan turun tangan membantu saya walaupun dari awal sampe lulus pun masih kena omelan karena saya masih gaptek selalu.

Soal kuliah, gimana gak terkaget-kaget? Jaman saya kuliah S1 dulu di ITB, kalau perwalian ya datang menghadap dosen di ruangannya. Antri dengan manis sampai pak dosen ada waktu melirik kita. Ada tugas pun biasanya mengandalkan pengumuman dalam secarik kertas atau ditulis di papan tulis kelas. Eh pas udah jadi emak-emak gini, masuk ruangan ditanya, udah bawa buku yang diminta atau belum. Lah bingung dong karena kemaren-kemaren gak ada pengumuman apa-apa. Eh ternyata pengumumannya udah diemail sebelumnya. Yah mana gue tau, gue kan emak-emak gaptek 😀 *ngeles*

Foto tahun 2015 Jaman Lagi Pusing Ngerjain Tugas Kuliah S2

Yah pokoknya sebagai emak-emak yang kuliah lagi di jaman kekinian, harus kuat sabar dan pantang menyerah sama teknologi komunikasi masa kini. Kalau kira-kira gampang nyerah, yah ga ada jalan lain selain ngajak suami kuliah juga. Hihihi

Nah, saat ini, pandangan sebagai emak-emak yang mudah nyerah akibat gaptek itu mau saya coba tinggalkan. Langkah besar yang mungkin buat orang lain sih “kok cuma gitu doang” tapi buat saya sesuatu adalah dengan membuat web ini. Ini web pribadi saya buat ngeblog. Web ini dari awalnya beli domain sampai akhirnya bisa tayang cerita yang dibaca teman-teman semua adalah hasil ngulik bener-bener sendiri. Alhamdulillah akhirnya lahir juga blog impian saya. Semoga bermanfaat buat yang membacanya.

Fiuh…(ngelap keringet)

-ekapunyacerita-